Rabu, 15 April 2015

GERAP GURITA PROFILE


Sejarahnya Gerap Gurita, 

Beberapa waktu yang lalu, kebetulan Aink, keyboardis band folk-punk Gerap Gurita main ke kantor kami (cieee…. kantor…!!). Dia ditemani oleh Graha, yang kata Aink adalah vokalis sementara Gerap Gurita, pengganti Anom yang sekarang lagi di luar kota jauh sekali. Ya sudah kebetulan mereka ada, kami wawancarai saja deh.
Katanya, band ini terbentuk di tahun 2006. Terdiri dari, ainGG: musette; Graha G: Vokal, akustik guitar; Dandun GG: bass; aGunG: drum; mira GG: biola; KinGkonG: gitar; anGGit: seruling plastik. Para personel Gerap masih punya hubungan darah satu sama lain, jadi band ini kayak proyek keluarga gitu. Mereka kebetulan adalah para sepupu yang punya misi dan visi yang sama.
Emang visi dan misi kalian itu apa sih?
"Band-band-an, "kata Aink., "Berekspresi, menuangkan segala sesuatunya melalui musik." Mereka juga ingin beda dengan band-band lain. Dari musiknya aja jelas, mereka ingin mengangkat musik kontemporer seperti punk rock, tapi dengan mengangkat tradisi budaya Jogja. Mereka mendefinisikan musik Gerap Gurita sebagai musik rock dan folk dengan basic punk, tapi dimasuki unsur tradisional seperti seruling dan akordeon. Mereka juga menggunakan biola dan saksofon yang membuat penampilan mereka berbeda dari band-band punk lainnya.
Katanya memainkan musik punk yang dipadu dengan instumen tradisional karena ingin melestarikan budaya lokal, tapi kok alat-alat tradisional yang dipake bukanlah alat tradisional lokal?
"Welah emangnya musik tradisionale opo je?!"Anom yang kami wawancarai secara online ikut-ikutan menanggapi, "Recorder flute itu pa? Kan dah dibilang itu alat sisa waktu SMP dulu, dan punyanya emang cuma itu. Semisal kami pake gamelan komplit, teneh koyo wayangan, dan lagi gak ada yang bisa main. Lagian format Gerap Gurita kan bukan band big gamelan...dasare yo ora due tekno...coba kalo punya mesti dicoba semuanya...kami tu orang-orang nritik dan sok tahu kok..hahaha
Sebagai band punk, mereka sudah sering manggung di berbagai acara punk Jogja dan sekitarnya. Bagi mereka komunitas punk memang sangat penting. Menurut mereka, komunitas punk lah yang mengangkat mereka. Di situlah tempat mereka belajar dan menjadi besar. "Band ini jelas bukan band komersil,"kata Aink, "karena kami berangkat dari komunitas punk."
Sebagai band punk, apa yang kalian lawan?
"Budaya memakan budaya,"kata Aink. "Budaya asli kita mati karena banyak budaya asing yang masuk."jelasnya. Menurut Aink sekarang banyak anak-anak muda yang nggak peduli sama budaya asli daerahnya sendiri, jadi Gerap ingin menjadi anak muda bukan kebanyakan yang masih "nguri-uri kabudayan".Sedangkan Anom menyatakan bahwa mereka tidak melawan siapa-siapa, karena semua kami anggap kawan. Dia juga mengatakan bahwa kita semua hidup dibumi ini harus berjuang untuk hidup kita sendiri, untuk keluarga, untuk anak, dan semua yang kita miliki dalam kehidupan sehari-hari.
"Tapi yg jelas Gerap Gurita cuma ingin menyampaikan sesuatu melalui nada-nada yg sebenarnya cacat nada..haha…Ya simak ajalah lirik lagu di Gerap Gurita. pasti ketahuan apa yg disampaikan."ujarnya.
Lirik mereka juga menggunakan bahasa Indonesia lho. Kata Aink, "Biar bisa lebih mudah diterima." Lalu Graha menambahkan, "Karena Gerap Gurita itu asli Indonesia, dan khususnya asli Jogja. Ngapain harus pake lirik bahasa Inggris?"
Sedangkan Anom mengatakan, "Kebetulan materi lagu yang kemaren-kemaren aku yang buat, karena aku bukan orang bule, dan kebetulan nilai bahasa inggrisku jelek., haha… Nggak juga ding..biar apa yang ingin disuarakan lewat lagu itu mudah tersampaikan. Sebenarnya gak pernah ada artinya sebenarnya, kita cuma pingin kedumbrang-kedumbreng aja kok..."
Kalo soal influens musik, selain mendengarkan band-band lokal dan tradisional, mereka masih mengacu pada band-band luar seperti The pogues,The Tossers, Dropkick Murphys, Flogging Molly, Greenland Whalefishers, The Mahones, Cock Sparrer, Anti-heros, dan band-band yang sejenis dengan mereka. Sedangkan Anom sendiri, sangat mengagumi Koes Plus! Dengan bersemangat dia menjelaskan, "Kalo untuk influens musik saya sangat mengagumi Koes Plus. Lihat saja mereka, apa sih yang nggak bisa mereka bikin? Ya anggep aja Koes Plus juga mempengaruhi lirik kami karena lirik mereka bagus sakali lho! Hohoo… Viva la Koes Plus!"
Ketika ditanya lagu apa yang jadi andalan, mereka mengatakan bahwa belum ada yang bisa menggantikan lagu JOi!gjakarta, karena anak-anak punk Jogja sudah hafal lagu itu. "Adik kecilku yang baru kelas 2 SD aja hafal! Bapak dan ibuku juga! Piye kui?! Opo ora menthol theot... Hahaha."kekeh Anom.
Anom suka banget lho sama lagu ini. Katanya dia mengisi kedua take gitarnya karena Graha sakit waktu rekaman. Anom sendiri juga yang memainkan recorder, mengisi lead vocal, sampe mixdown. "Opo ora nggleleng aku ki?! Haha… Tapi intinya liriknya lah. Semua bisa ngerti kan arti lirik jOi!gjakarta? ya itu intinya... "
Mereka mendapat inspirasi lagu itu setelah gempa Mei 2006 melanda Jogja. Lagu ini menjadi semacam kenang-kenangan bagi mereka dan teman-teman mereka di Jogja. Lagu itu bercerita tentang nasionalisme mereka dan kecintaan mereka terhadap kota Jogja.
Saat ini mereka sedang rekaman dengan materi kira-kira dua belas lagu, katanya. Lagu-lagu ini semuanya baru, berbeda dengan lagu-lagu mereka yang terdahulu. "Kami mencari label yang mo ngelabelin full album kami"kata Anom. Rencananya kalo ada label yang mau merilis rekaman mereka, lagu-lagu ini akan dijadikan album.
Lalu ketika ditanya adakah kata-kata terakhir yang ingin diucapkan, mereka menjawab, "TERIMAKASIH BUAT KALIAN KAWAN!!! Stay punk, stay free, stay DIY!"(put/gis)


SUMBER : http://rizqifadhlurrahman.blogspot.com/2012/01/gerap-gurita-profile.html

Sabtu, 14 Maret 2015

Gerakan Jogja Ora Di Dol & Bali Tolak Reklamasi

SID Dukung Gerakan Jogja Ora Didol dan Kampanyekan Tolak Reklamasi Bali

Bobby Cool gitaris dan vokalis SID memakai kaos Bali Tolak Reklamasi dan Batalkan Perpres 51 tahun 2014 ketika manggung di Alun-alun Utara Jogja, Sabtu malam, (06/09/2014. Foto :  Tommy Apriando
Bobby Cool gitaris dan vokalis SID memakai kaos Bali Tolak Reklamasi dan Batalkan Perpres 51 tahun 2014 ketika manggung di Alun-alun Utara Jogja, Sabtu malam, (06/09/2014. Foto : Tommy Apriando
Grup band Superman Is Dead (SID) mengkampanyekan dukungannya untuk gerakan “Jogja Ora Didol” (Jogja tidak dijual) dan “Tolak Reklamasi Bali” ketika tampil di panggung, di Alun-alun Utara Yogyakarta pada Sabtu malam, 6 September 2014.
Bobby Cool selaku gitaris dan vokalis SID di atas panggung mengucapkan terima kasih  atas dukungan para OutSIDers dan Lady Roses –sebutan untuk penggemar SID—terhadap gerakanan mereka menolak reklamasi Teluk Benoa di di Bali.
“Perjuangan kami untuk menyelamatkan tanah kelahiran kami untuk menolak reklamasi tidak akan berhenti. Jogja juga harus menjaga alamnya. Jogja harus tetap nyaman,” kata Bobby Cool di atas panggung sebelum menyanyikan lagu “Jadilah Legenda”.
Di atas panggung, Bobby Cool juga mengenakan kaos hitam tanpa lengan bertuliskan “Bali Tolak Reklamasi, batalkan Perpres 51 tahun 2014.”
Jerinx SID suarakan dukungan untuk gerakan Jogja Ora Didol dan Tolak reklamasi Bali di panggung, di Alun-alun Utara Jogja, Sabtu malam (06/09/2014). Foto : Tommy Apriando
Jerinx SID suarakan dukungan untuk gerakan Jogja Ora Didol dan Tolak reklamasi Bali di panggung, di Alun-alun Utara Jogja, Sabtu malam (06/09/2014). Foto : Tommy Apriando
Sementara itu, Jerinx selaku penggebuk drum SID juga menyuarakan gerakan tolak reklamasi Bali dan “Jogja Ora Didol” di atas panggung. Ia berpesan kepada warga Yogyakarta untuk menyuarakan dan melawan berbagai bentuk kerakusan dari pemimpin daerah yang mengancam kerusakan alam.
“Hanya dua kalimat yang ingin saya sampaikan, Bali Tolak Reklamasi dan Jogja Ora Di Dol,” kata Jerinx.
Jerinx penggebuk drum SID ketika tampil di panggung di Alun-alun Urata Jogja dukung gerakan Jogja Ora Didol dan Bali Tolak Reklamasi. Foto : Tommy Apriando
Jerinx penggebuk drum SID ketika tampil di panggung di Alun-alun Urata Jogja dukung gerakan Jogja Ora Didol dan Bali Tolak Reklamasi. Foto : Tommy Apriando yog
Halik Sandera, Direktur Eksekutif Walhi Yogyakarta kepada Mongabay Indonesiamengatakan, gerakan Jogja Ora Didol itu memang untuk mengkampanyekan terkait persoalan pembangunan yang masif dan mengancam lingkungan di Yogyakarta, dan mengancam masyarakatnya.
Menurutnya, saat ini proses kepemilikan lahan kepada pendatang akan berlahan-lahan mengusir penduduk asli Yogyakarta. Selain itu, makin maraknya pembangunan hotel, apartemen dan hunian yang dimiliki orang luar Yogyakarta dan keuntungannya hanya dinikmati oleh segelintir orang.
“Lambat laun orang Jogja bisa terpinggirkan dan terusir dari daerahnya sendiri. Seperti masyarakat Betawi yang sudah banyak keluar dari wilayahnya sendiri di Jakarta,” kata Halik.
Ia menambahkan, pembangunan di Jogja yang tidak memperhatikan lingkungan berdampak pada banyak hal. Pertama, saat terjadi pembangunan secara masif maka kemacetan tidak akan terhindari, maka polusi udara akan semakin tinggi.
Keduapembangunan hotel, apartemen dan perumahan yang masif dan menggunakan air tanah berdampak pada turunnya permukaan tanah. Ketiga, dampak pembangunan masif juga akan berdampak pada limbah yang dihasilkan.
Walaupun dikelola melalui Instalasi Pengelolaan Air Limbang (IPAL), namun jika dibuang  dan mengalir ke sungai dengan jumlah yang banyak juga tetap berdampak pada baku mutu air.
Saat ini pembangunan hotel sangat sporadis. Rata-rata pembangunannya ada di bantaran sungai. Padahal wilayah sepadan sungai atau pinggir sungai masuk kawasan lindung dan dijaga kelestariannya.
Dampak pembangunan hotel yang masif sudah mulai muncul yakni hilangnya air sumur warga. Selain itu, ada warga satu RT yang telah menjual tanahnya untuk pembangunan hotel di dekat sepadan/pinggir Kali Code.
“Pemerintah Jogja harus tegas membuat kebijakan menghentikan pembangunan masif yang berdampak pada orang Jogja sendiri dan lingkungan sekitarnya,” pungkas Halik

Sumber : http://www.mongabay.co.id/2014/09/07/sid-dukung-gerakan-jogja-ora-didol-dan-kampanyekan-tolak-reklamasi-bali/

Jogja Not For Sale ( Jogja Ora Di Dol)


Setelah suwi mimin ngilang karena ndik kejar-kejar satpol ngeple & pemerentah DIY sing arep ngeDOL Jogja, here welcome, mbak sing paling ayu sing ora jirih kasih testimoninya Hida (19) | Mahasiswi | calon guru | Yogya | @hidabasori #JogjaOraDidol
Setelah suwi mimin ngilang karena ndik kejar-kejar satpol ngeple & pemerentah DIY sing arep ngeDOL Jogja, here welcome, mbak sing paling ayu sing ora jirih kasih testimoninya 

Hida (19) | Mahasiswi | calon guru | Yogya | @hidabasori #JogjaOraDidol
 
 
Dhani (17), Wonosari, Anak Petani

"Ketika rakyat dituntut menuju era konsumtif, ditindas tirani penguasa yang menjual kekuasaan kepada kapitalisme, dengan dominasi dari properti dan monopoli sumber daya, maka hanya ada 1 kata: LAWAN!!!
#JogjaOraDidol
Dhani (17), Wonosari, Anak Petani
"Ketika rakyat dituntut menuju era konsumtif, ditindas tirani penguasa yang menjual kekuasaan kepada kapitalisme, dengan dominasi dari properti dan monopoli sumber daya, maka hanya ada 1 kata: LAWAN!!!
#JogjaOraDidol

Kiriman/Undangan terbuka dari petani-petani Kulon Progo.
Kiriman/Undangan terbuka dari petani-petani Kulon Progo.
 
 
Kiriman dari akun Facebook Aghell Hdi Saputro:

"Jogja Not For Sale, Dap….!!!"
#JogjaOraDidol
Kiriman dari akun Facebook Aghell Hdi Saputro:
"Jogja Not For Sale, Dap….!!!"
#JogjaOraDidol
 
 

Kiriman dari akun Facebook Santa Monica:
"Tanah Untuk Tahta. Tahta Untuk Rakyat. 24 September 1984 HB IX menerima Undang-undang Pokok Agraria tahun 1960."
#JogjaOraDidol
Kiriman dari akun Facebook Santa Monica:
"Tanah Untuk Tahta. Tahta Untuk Rakyat. 24 September 1984 HB IX menerima Undang-undang Pokok Agraria tahun 1960."
#JogjaOraDidol
 
 

Harun Arony (22), Mahasiswa Abadi/Ora Lulus-lulus, Jakal Km.13
"Turut berduka atas semua ini"
#JogjaOraDidol
Harun Arony (22), Mahasiswa Abadi/Ora Lulus-lulus, Jakal Km.13
"Turut berduka atas semua ini"
#JogjaOraDidol
 
 

"Asu raimu, pak!"(Kiriman dari akun Facebook Otram Oriwap)
"Asu raimu, pak!"

(Kiriman dari akun Facebook Otram Oriwap)
 
 

Pada suatu malam ndik bunderan Universitas Gadjah Mada Jogja Ora Didol, sa menyaksikan batu-batu bicarah:”#JogjaOraDidol - Tanah Untuk Tahta, Tahta Untuk Rakyat”
Pada suatu malam ndik bunderan Universitas Gadjah Mada Jogja Ora Didol, sa menyaksikan batu-batu bicarah:

#JogjaOraDidol - Tanah Untuk Tahta, Tahta Untuk Rakyat”
 
 
Waiki. Sa sering lihat kuis ini sliweran ndik tipi. Tapi edisi sing iki khusus buat Daerah Istimewa Yogya Ora Didol (Kiriman dari akun Facebook Otram Oriwap)
Waiki. Sa sering lihat kuis ini sliweran ndik tipi. Tapi edisi sing iki khusus buat Daerah Istimewa Yogya Ora Didol 

(Kiriman dari akun Facebook Otram Oriwap)
 
 

Kiriman dari akun Twitter @IndraEndro 
“Jogja Ora Didol dari puncak gunung Prau 2565 Mdpl!!”
Kiriman dari akun Twitter @IndraEndro 
Jogja Ora Didol dari puncak gunung Prau 2565 Mdpl!!”
 
 

Kiriman dari akun Facebook “Ryan M. Afriansyah”
"Jogja Ora Didol!!"
#JogjaOraDidol
Kiriman dari akun Facebook “Ryan M. Afriansyah”
"Jogja Ora Didol!!"
#JogjaOraDidol
 
 

Kiriman dari akun Facebook “Hendro Saputro”
"Djogjaku tok dol, idak ndasmu, har!!"
"Suhar koyone lagi ora sehat, lik!!"
Kiriman dari akun Facebook “Hendro Saputro”
"Djogjaku tok dol, idak ndasmu, har!!"
"Suhar koyone lagi ora sehat, lik!!"
 
 

Ardi (17), Pelajar, Yogya
"Iki Jogja, lek!! Nek mau dijual, mending Anda pergi daripada jadi virus!!:
#JogjaOraDidol
Ardi (17), Pelajar, Yogya
"Iki Jogja, lek!! Nek mau dijual, mending Anda pergi daripada jadi virus!!:
#JogjaOraDidol
 
 

Kiriman foto dari akun Facebook “Nandt Rebellion Rose”
Kiriman foto dari akun Facebook “Nandt Rebellion Rose”
 
 
Kiriman video dari akun YouTube bernama “Ode untuk Yogya”
Minggu sekitar jam 10 Malam (13 Oktober 2013) sekitar puluhan orang secara tiba-tiba melakukan flashmob di Monumen Tugu Jogja. Mereka bergandengan tangan mengelilingi Tugu dan sebagian dari mereka membentangkan beberapa spanduk yang bertuliskan: “Tanah Untuk Tahta. Tahta untuk Rakyat”; “Jogja Ora Didol”.
Sesaat sebelum meninggalkan monumen yang paling sering dikunjugi oleh wisatawan itu, mereka meneriakkan “Jogja Ora Didol!”
#JogjaOraDidol

Agus (22), Calon Sarjana - Guru Honorer
"Jogja makin rungseb penataan papan reklamenya, gedung bertingkat semakin sombong menjulang. Ini kota BUDAYA, dab, bukan METROPOLITAN."
#JogjaOraDidol
Agus (22), Calon Sarjana - Guru Honorer
"Jogja makin rungseb penataan papan reklamenya, gedung bertingkat semakin sombong menjulang. Ini kota BUDAYA, dab, bukan METROPOLITAN."
#JogjaOraDidol

Ninda, Mahasiswi
"Jogja Istimewa untuk pribadi, bukan lagi untuk kami."
#JogjaOraDidol
Ninda, Mahasiswi
"Jogja Istimewa untuk pribadi, bukan lagi untuk kami."
#JogjaOraDidol
Kiriman Video dari Edo (24), Prawirotaman
"Minggu,13 Oktober pukul 20.00 hingga 22.00, kawan-kawan solidaritas #JogjaOraDidol menggelar flashmob bertajuk "Jogja Ora Didol". Aksi ini dilakukan di empat titik secara spontan dan kolektif."
 
 

Joy (9), Student, Sheffield UK
"Makin Susah sepedaan."
#JogjaOraDidol
Joy (9), Student, Sheffield UK
"Makin Susah sepedaan."
#JogjaOraDidol
 
 

Yosua, Plawangan - Kaliurang
"Aku pengen Jogja sek ngene, ijo, resik, ora kakean mall"
#JogjaOraDidol
Yosua, Plawangan - Kaliurang
"Aku pengen Jogja sek ngene, ijo, resik, ora kakean mall"
#JogjaOraDidol
 
 

Rona (20), Mahasiswa + Penjaga Toko, Bandung
"Kalau sudah bisa makan BESI, silakan bangun terus tambang & hotel d Jogja."
#JogjaOraDidoL
Rona (20), Mahasiswa + Penjaga Toko, Bandung
"Kalau sudah bisa makan BESI, silakan bangun terus tambang & hotel d Jogja."
#JogjaOraDidoL

Rere, Mahasiswi
"Jogja cerminan Orde Baru. Keadilan itu buat kalangan elit. Rakyat hanya sebagai boneka para elit"
#JogjaOraDidoL
Rere, Mahasiswi
"Jogja cerminan Orde Baru. Keadilan itu buat kalangan elit. Rakyat hanya sebagai boneka para elit"
#JogjaOraDidoL
 
 

Ram (30), Cleaning Service, Condong Catur
"Akeh angkringan sing tutup"
#JogjaOraDidoL
Ram (30), Cleaning Service, Condong Catur
"Akeh angkringan sing tutup"
#JogjaOraDidoL
 
 

Gendon (24), Buruh Serabutan, Sleman
"Nek okeh penggusuran berarti cen bener Jogja rep didol!!! Trus istimewa e nandi?"
#JogjaOraDidoL
Gendon (24), Buruh Serabutan, Sleman
"Nek okeh penggusuran berarti cen bener Jogja rep didol!!! Trus istimewa e nandi?"
#JogjaOraDidoL

Yadi (27), Perantau, Gamping
"Banyak penggusuran kok istimewa!! Istimewa untuk siapa?"
#JogjaOraDidoL
Yadi (27), Perantau, Gamping
"Banyak penggusuran kok istimewa!! Istimewa untuk siapa?"
#JogjaOraDidoL
 
 

Budi, Pengangguran, Anak Mantan Petani
"Istimewa itu milik Sultan bukan milik Rakyat"
#JogjaOraDidoL
Budi, Pengangguran, Anak Mantan Petani
"Istimewa itu milik Sultan bukan milik Rakyat"
#JogjaOraDidoL
 
 

Agls 07, Street artist
"Jogja "kota istimewa" bukan kota metropolitan"
#JogjaOraDidoL
Agls 07, Street artist
"Jogja "kota istimewa" bukan kota metropolitan"
#JogjaOraDidoL

Gerarda (22), Mahasiswa sekaligus buruh wisata (tour guide)
"TANAH UNTUK RAKYAT!! 
Bukan untuk penguasa yang haus harta, bukan untuk mereka yang berduit saja. Kalau sawah dan ladang di Jogja dibangung tambang semua, hotel semua, cafe semua, lantas kita bisa makan apa?
Jangan sampe jogja sama kayak Jakarta & kota besar lainnya!!
Lantas, APA ISTIMEWANYA?? kalo sama aja sama kota lainnya =(
*Untung tanah ortu gw di Jakarta, jadi Sultan ga berhak klaim-klaim tanah ortu gw. 
WARGA YOGYA BERSATULAH
#JogjaOraDidoL
Gerarda (22), Mahasiswa sekaligus buruh wisata (tour guide)
"TANAH UNTUK RAKYAT!! 
Bukan untuk penguasa yang haus harta, bukan untuk mereka yang berduit saja. Kalau sawah dan ladang di Jogja dibangung tambang semua, hotel semua, cafe semua, lantas kita bisa makan apa?
Jangan sampe jogja sama kayak Jakarta & kota besar lainnya!!
Lantas, APA ISTIMEWANYA?? kalo sama aja sama kota lainnya =(
*Untung tanah ortu gw di Jakarta, jadi Sultan ga berhak klaim-klaim tanah ortu gw. 
WARGA YOGYA BERSATULAH
#JogjaOraDidoL
 
 

Siti Dzubaidah (26), Pegawai Bank
"Nanti kemana anak2 saya akan bermain & lari2an kalau semua tanah dijual & hilang?!?"
#JogjaOraDidoL
Siti Dzubaidah (26), Pegawai Bank
"Nanti kemana anak2 saya akan bermain & lari2an kalau semua tanah dijual & hilang?!?"
#JogjaOraDidoL
 
 

Susi (25), Penjaga Toko, Anak Petani - BantuL
"Kalo semua dijadikan tambang, mall, hotel, tak ada lagi sawah yang bisa diwariskan dan jadi sumber kehidupan:
#JogjaOraDidoL
Susi (25), Penjaga Toko, Anak Petani - BantuL
"Kalo semua dijadikan tambang, mall, hotel, tak ada lagi sawah yang bisa diwariskan dan jadi sumber kehidupan:
#JogjaOraDidoL
 
 

Dian (20), Mahasiswa, Sleman-Jogja
"Tanah sendiri tapi dibilang nyewa loh -_-"
#JogjaOraDidoL
Dian (20), Mahasiswa, Sleman-Jogja
"Tanah sendiri tapi dibilang nyewa loh -_-"
#JogjaOraDidoL
 
 

Willy (21), Mahasiswa, Magelang
"Jogja harus istimewa. Semua tanah harus bisa diakses rakyat, termasuk yg "SIPIT" seperti saya"
#JogjaOraDidoL
Willy (21), Mahasiswa, Magelang
"Jogja harus istimewa. Semua tanah harus bisa diakses rakyat, termasuk yg "SIPIT" seperti saya"
#JogjaOraDidoL
 
 

Santa Monica (20), Mahasiswa, Mrican
"Tanah bersertifikat tetap disikat! Petani asyik bertani jadi tambang besi! Parangkusumo tempat hidup bukan resort Sultan!!
#JogjaOraDidoL
Santa Monica (20), Mahasiswa, Mrican
"Tanah bersertifikat tetap disikat! Petani asyik bertani jadi tambang besi! Parangkusumo tempat hidup bukan resort Sultan!!
#JogjaOraDidoL
 
 
Ocha (19), Mahasiswa, Wonosari
"Yogya Berhati Nyam-nyam"
#JogjaOraDidoL
Ocha (19), Mahasiswa, Wonosari
"Yogya Berhati Nyam-nyam"
#JogjaOraDidoL
 
 

Bayu (23), Mahasiswa, Godean
"Saya baru tahu, ternyata UUK dan perda keistimewaan itu UU dan perda MALING!!! Yang dimaling adalah tanah rakyat, yang jadi maling ya yang punya uang dan jabatan. 
Ha..ha..ha..!!”
#JogjaOraDidoL
Bayu (23), Mahasiswa, Godean
"Saya baru tahu, ternyata UUK dan perda keistimewaan itu UU dan perda MALING!!! Yang dimaling adalah tanah rakyat, yang jadi maling ya yang punya uang dan jabatan. 
Ha..ha..ha..!!”
#JogjaOraDidoL
 
 

Petrus (23), Mahasiswa, Wonogiri
"Tanah Jogja tanah Tuhan, berikan pada mereka yang memang berhak, bukan investor, makelar, elite penguasa. Rakyat lebih berhak mengolah tanah Jogja.
NO TAMBANG! NO MALL!”
#JogjaOraDidoL
Petrus (23), Mahasiswa, Wonogiri
"Tanah Jogja tanah Tuhan, berikan pada mereka yang memang berhak, bukan investor, makelar, elite penguasa. Rakyat lebih berhak mengolah tanah Jogja.
NO TAMBANG! NO MALL!”
#JogjaOraDidoL
 
 

David (28), “Baru nganggur lagi”, 10 tahun di Sagan, Asli Medan
"Kurang dari 1 tahun pergi… Rasanya seperti tak mengenal lagi. Ruko, Minimarket, Hotel?!?? JANGAN HILANGKAN "JOG" dari "JOGJAKARTA"
#JogjaOraDidol
David (28), “Baru nganggur lagi”, 10 tahun di Sagan, Asli Medan
"Kurang dari 1 tahun pergi… Rasanya seperti tak mengenal lagi. Ruko, Minimarket, Hotel?!?? JANGAN HILANGKAN "JOG" dari "JOGJAKARTA"
#JogjaOraDidol
 
 

Putra (25), buruh rantau
"Jogja yang dulu berhati nyaman kini sudah tidak nyaman lagi. Hotel dan mal di mana2x!"
#JogjaOraDidoL
Putra (25), buruh rantau
"Jogja yang dulu berhati nyaman kini sudah tidak nyaman lagi. Hotel dan mal di mana2x!"
#JogjaOraDidoL



Sumber : http://jogjaoradidol.tumblr.com/